Thursday, May 9, 2013
Wednesday, May 1, 2013
Fashion Talks: An Interview with Ai Syarif
Dalam benak Sunday, kalo mau bicara fashion sungguh sulit untuk tidak
teringat dengan satu nama ini: Ai Syarif. Satu siang di Restoran Midori, kami
makan bersama sambil bicara soal fashion di Indonesia.
“Mas Ai” -- Sunday biasa memanggil beliau seperti itu. Setelah 20 tahun
menjadi salah satu sosok paling di-respek di media fashion nasional, kini ia
memutuskan untuk ‘ganti sisi’. Maksudnya? Jika sebelumnya Mas Ai berada di
editorial fashion yang mengamati dan mengkritisi karya para desainer, kini
justru ia menjadi desainer itu sendiri! Seperti apa rutinitasnya kini? Sunday’s
keeping up with Ai Syarif!
Mas Ai, makan sushi nggak?
Makan, kok. Saya selalu pesan sushi di sini.
Lagi sibuk apa hari-hari ini Mas?
Sekarang kesibukannya berkisar di label Ai Syarif 1965. Sebelumnya
memang line ini khusus untuk pria, tetapi dalam waktu dekat akan dikeluarkan
juga koleksi wanitanya. Selain itu saya juga melatih tari, mengelola progam Warna
Indonesia (sebuah misi budaya yang mengirim anak-anak muda Indonesia untuk
menampilkan tari Indonesia di festival kesenian luar negeri), dan ada juga
sekolah talenta The Sun Pro yang dikelola oleh adik saya.
Ceritain dong Mas soal Ai Syarif 1965...
Label ini karakternya ‘notable, personal and timeless’ -- saya suka
mengangkat individualisme dalam arti tiap look bisa punya karakter yang berbeda
tapi tetap kelihatan satu koleksi. Mengamati koleksi fashion untuk pria di
Indonesia, saya kok merasa pilihannya terlalu terbatas dan kurang dieksplorasi.
Maka Ai Syarif 1965 menghadirkan pakaian pria yang mudah di mix-and-match
dengan sentuhan motif tradisional Indonesia.
Mas Ai kelihatannya tertarik mengangkat kain tradisional Indonesia ya
Negara kita itu diberkati dengan kain tradisional yang sangat kaya, tapi
sayang yang kurang adalah skill untuk mengolahnya. Sebagai orang Indonesia saya
mau dong kekayaan budaya kita lebih dikenal. Untuk itu, saya selalu memakai
kain tradisional Indonesia seperti tenun, batik dan lurik yang dibuat oleh industri
lokal ataupun UKM. Kain-kain ini diolah menjadi koleksi ready-to-wear.
Skill untuk mengolah kain itu seperti apa ya?
Misalnya desainer mengambil kain lurik, terus langsung diolah begitu
saja. Sebaiknya kainnya diproses lagi, gimana caranya biar lebih istimewa. Kita
tahu, lurik bahannya nggak terlalu mahal, nah tantangannya gimana agar dia
kelihatan lebih mewah.
Kenapa tema koleksinya ‘Individualisme’?
Saya menciptakan tren sendiri, tanpa bergantung dengan ‘aturan’ fashion
yang sedang tren saat ini. Hal ini saya lakukan untuk mendapat gaya personal
yang segar dan individual.
Menurut Mas Ai, desainer yang baik itu...
Tanggung jawab desainer adalah melayani kliennya. Kita nggak hanya bikin
baju, tapi juga harus memberi masukan. Kalau memang bentuk tubuh klien tidak
cocok dengan baju kita, nah harus bias menutupi kekurangan klien. Desainer
nggak boleh memaksakan idealisme sendiri, bajunya harus bisa dimodifikasi
sesuai tubuh klien. Jangan asal mau jual baju, terus bilang cocok-cocok saja.
Misalnya, ada klien yang lehernya nggak terlalu panjang tapi berminat sama
koleksi kita yang kerahnya tinggi. Nah, kita harus bilang terus terang: kamu
kan lehernya nggak panjang, agar lebih bagus saya buat kerahnya nggak terlalu
tinggi ya. Intinya, kita harus menghargai klien agar dia tampil bagus pakai
baju kita.
Pendidikan fashion itu penting nggak sih? Atau otodidak bisa?
Menurut saya pendidikan fashion itu penting ya. Dulu aku ambil kelas di
Esmod. Soalnya jangan sampai kita dibohongin sama penjahit atau tukang pola
kita. Jarang ada yang otodidak. Lagi pula seorang desainer kan nggak hanya
membuat, tapi juga menjual. Dia harus bisa menghitung ongkos produksi, dll. Oh
iya, tapi Kanaya Tabitha itu salah satu contoh desainer yang otodidak.
Mas Ai sendiri punya merk favorit?
Saya suka koleksi Dsquared dan Dolce & Gabbana.
So that’s our lunch. Baca lebih banyak paparan Mas Ai
mengenai segala hal yang terjadi di balik catwalk fashion dalam Sunday Mei
2013. Coming out soon at your schools! :D
Monday, April 15, 2013
Friday, April 12, 2013
Thursday, April 4, 2013
DIY Special: Perfumed Jar ^.^
Cake in a Jar? Ah sudah biasa! Bagaimana kalau kamu ingin membuat kreasi unik dalam toples tapi nggak minat dengan dunia masak-memasak? Perkenalkan: toples pewangi ruangan!
Bahan yang perlu dipersiapkan:
#toples bekas, kupas labelnya dan cuci sampai bersih
#pewangi ruangan berbentuk butiran, seperti Glade
#tisu basah yang kering (bingung, nggak? hehehe maksudnya tisu basah
dijemur sampe garing gituu)
#lilin plastisin (mainan jadul anak-anak itu loh)
#bahan pengisi lainnya, seperti penghapus unyu atau bola-bola styrofoam
#tali atau pita
CARA MEMBUAT
Pertama-tama, biar hiasannya kagak oglek, kita buat semacam 'fondasi' di dasar toples dengan lilin yang digepengin
Terus tancapkan hiasan yang kamu inginkan di atasnya. Sunday memakai penghapus-penghapus.
Isi bagian atasnya dengan butiran glade. Kalau mau lebih rame, kamu bisa campur dengan manik-manik atau butiran styrofoam :) Tutup mulut toples dengan tisu basah yang sudah dijemur lalu ikat dengan pita atau tali dekorasi. Gampang kan? :)
Temukan kreasi pewangi ruangan toples lainnya dalam Sunday edisi April! Coming soon to your schools ^.^
Tuesday, April 2, 2013
Sneak Peek! Sunday's Polaroid Bag April :)
Bagaimana rasanya seru-seruan bermain game, dan mendapat
hadiah pula? Sunday ngobrol sama Kevin, untuk menyelami dunia seorang
professional gamer!
Perkenalan pertama saya dengan dunia game, awalnya dari
iseng-iseng aja saman temen. Pertama kali kelas 3 SD, main 1-2 kali. Tapi habis
itu yang sudah, fokus belajar. Nah, mulai diajak main lagi secara rutin pas
SMP, 2-3 hari sekali.
Awalnya main game ya itu-itu aja, bareng temen. Lama-lama
diajakin bikin tim, sampe sekarang saya main satu tim berlima, Jadi awalnya
berdua teman, terus nyari orang lagi sampai akhirnya kami dapat orang-orang
yang jago dan belum ada tim. Waktu itu sempat kami cuma menang sekali, sisanya
kalah terus.
Nah, akhirnya kenal sama SR, Super Player. Dari komunitas
itu ada sekitar 25 orang yang sudah jago banget. Kami kan masih generasi mudanya.
Nah, saat beberapa pemain utama nggak bisa main, saya yang ikut tanding.
Pertama mulai eksis dari sana.
Yang paling berkesan dari dunia game? Saya sudah pindah dari
Counterstrike ke Point Blank. Di sini, tim saya masih sama dari awal dan bisa
dibilang kami benar-benar dekat. Misalnya lagi ada apa-apa, ada masalah, kita
omongin bareng. Nongkrong juga bareng. Kaya udah saling ngerti satu sama lain,
jadi nggak cuma nge-game doang tapi di sisi lain ada sosialnya. Padahal kami
semua bener-bener beda angkatan tapi bisa nyambung.
Tahun 2009-2010 itu waktu saya paling intens nge-game.
Sekarang sih tinggal maintain aja, seminggu paling main 2 kali. Tips untuk anak
SMA yang mau terjun ke dunia game? Kalo masalah nge-game sih tergantung minat
ya. Kalau ada minat di sana dan pengen coba, ya coba aja. Rutin latihan. Kalau
memang ada talent tapi nggak dimainin ya percuma. Kalau nggak talent tapi rajin
latihan, bisa jadi jago. Dan yang penting, makin lama kita harus makin bisa
manage waktu.
Biasanya game ada titik jenuhnya, nanti juga bakal bosen
banget liat komputer. Kalo lagi pengen main ya main, kalo nggak ya nggak.
Game favorit saya sekarang Point Blank, soalnya turnamennya
masih kompetitif. Counterstrike di Indonesia sudah mati, turnamen paling
setahun cuma 1-2 kali. Kalo Point Blank sebulan bisa dua kali tanding dan
hadiahnya lumayan banget.
Enaknya jadi professional gamer, cuma waktu aja yang
tersita. Masalah dana sudah disponsorin jadi tinggal bawa diri dan main. Sama
nyumbang waktu sedikit buat latihan. Awal-awal dulu sponsor kami SR, lalu ke
Kamikaze. Tapi sekarang Kamikaze sudah mati, jadi SR direkrut sama Arikanami.
Semua masalah turnamen mereka yang tanggung, termasuk ongkos-ongkos tanding di
luar kota. Hasilnya pun bersih untuk kami berlima setim.
Beda-beda sih sistemnya. Kalau dulu di Kamikaze prinsipnya
pembagian 80:20, 80 persen untuk pemain, 20 persen untuk sponsor. Tapi sekarang
kalau menang malah dari Arikanami ngasih bonus. Seru kalau menang, tapi kalau
kalah ya sedih juga. Cuman makin ke sini main itu nyari enjoy, bukan nyari
menang lagi.
Soal dunia game yang identik dengan cowok…yang gamers memang
mayoritas cowok tapi perempuan nggak tertutup kemungkinannya untuk jadi jago.
Di Point Blank tuh ada 1-2 perempuan jago banget, untuk kategori perempuan dia
paling jagonya.
Cek Kevin di Polaroid Bag Sunday edisi April! :)
Monday, March 25, 2013
Robotic Conversation with Yohanes Kurnia
Pernah kebayang gimana rasanya menjadi seorang pembuat
robot? Sunday berkesempatan menginterview Ko Yoyo alias Yohanes Kurnia dari
SARI (Solution to Artificial Robot Intelligence).
Ko Yoyo, hari-hari ini lagi sibuk apa apa nih?
Lagi siapin event nih, acara robotics terbesar dalam skala nasional karena menyatukan expo, lomba, demo dan entertainment. Semua robotic konsepnya, dan ada cosplay juga. Rencana acaranya digelar 2-7 April 2013 di Mall Alam Sutera.
Lagi siapin event nih, acara robotics terbesar dalam skala nasional karena menyatukan expo, lomba, demo dan entertainment. Semua robotic konsepnya, dan ada cosplay juga. Rencana acaranya digelar 2-7 April 2013 di Mall Alam Sutera.
Boleh diceritain nggak perkenalan pertama Ko Yoyo dengan
robot?
Gara-gara kepeleset! Tahun 2005-2006 saya masih fokus bikin
sekolah preschool dan TK, sama buka kursus bahasa Inggris. Eh, teman saya ada
yang dipecat. Tadinya dia kerja di penerbitan buku dan punya link ke
sekolah-sekolah. Dia yang melihat kalau robotics itu di masa depan akan jadi
satu era. Dia ajak saya.
Waktu kami baru mulai, teman saya itu dengan gilanya
nembusin proyek kami ke 8 sekolah. Akhirnya datanglah kami ke sekolah-sekolah
itu untuk mengisi ekskul robotics mereka. Yah namanya juga udah kepeleset mau
nggak mau jalan dong. Waktu itu saking nggak ada modalnya kami bikin robot dari
barang bekas. Tapi ternyata inilah yang jadi nilai tambah.
Terus gimana perkembangan selanjutnya?
Kami punya visi untuk nggak mengajarkan anak robotics yang
instan. Bahkan di kelas saya, cewek-cewek sekalipun harus mengamplas dan
menyolder sendiri. Kalau tangan luka, rasain sendiri biar belajar jaga diri dan
kerja yang bener.
Saya percaya kesulitan menimbulkan ketekunan, ketekunan
menimbulkan tahan uji dan pada akhirnya tahan uji menimbulkan pengharapan.
Mereka jadi telaten dan nggak gampang menyerah loh. Lebih cepat juga menangkap
pelajaran, punya sense kerjasama yang bagus karena kamu nggak bisa bikin robot
sendirian. Harus tim!
Nah, ada satu cerita…waktu itu kami 1 tim ikut kompetisi
robot di Singapura. Seluruh sekolah di Singapura ikut. Tugasnya? Bikin robot
yang bisa mengambil 10 bola pingpong lalu pindahin lewat jalur sejauh 1- meter.
Lewatin gundukan pasir yang dalam juga, salah-salah kejebak.
Saya dapat ide robot untuk kompetisi ini justru pas lagi
sakit tifus. Saya dirawat di rumah sakit, dan minum Pocari Sweat yang ukuran
gede terus. Satu kali waktu lagi tiduran sambil ngeliatin botol Pocari kosong,
saya langsung dapat ide untuk bikin robot penyedot. Moncong botolnya digedein,
tengahnya dikasih jaring, belakanya dipapas. Terus masukin kipas komputer!
Nyedot kan? Saya langsung telepon temen untuk ambil botol di rumah sakit!
Nah waktu kompetisi, tim-tim lawan pada bikin robot yang
menjepit atau menyerok. Robot Indonesia? Karena nyedot, 10 bola pingpong
langsung habis sekali jalan! Tim kami juara 1 dan dapat gelar tim terbaik. Saya
inget banget, itu tim isinya anak-anak kelas 5 SD dan begitu pulang ke
Indonesia langsung jadi idola cewek-cewek di sekolahnya (ngakak!)
Kalo periPernPernah mengalami kejadian sedih
gara-gara robot nggak?
Ada, satu peristiwa yang paling nggak terlupakan. Tahun 2009,
kami bikin event untuk pertama kali di mall. Waktu itu kami mau memperkenalkan
robot yang bisa menyelam dalam air, buatan anak-anak sendiri. Ternyata, ada
yang salah kasih lem sehingga robot itu malah tenggelam dan…meledak di air!
Kontan akuariumnya pun pecah, padahal itu akuarium gede banget, lebih besar dari
badan orang dewasa! Kami pun satu tim pada ngepel mall sampai jam 1 pagi. Sedih
banget rasanya, kaya lagi menggali kuburan sendiri. Nightmare abis! Untung hari
kedua dan ketiga acara berjalan lancar.
Gimana pendapat Ko Yoyo sama anak SMA yang main robotics?
Kalau sudah SMA, alirannya harus udah beda. Musti robotics
untuk produksi, bikin sesuatu yang bener-bener bisa dipakai masyarakat. Robot
implementasi, istilahnya.
Tapi untuk SMA di Jakarta ya, yang tertarik robotics bisa
dibilang 10-20 persen saja karena mereka lebih pilih fokus di ujian akhir dan
universitas. SMP pun 30-40 persen, paling banyak peminat saat ini di SD yang
bisa sampai 60 persen.
Waktu kecil Koko suka main robot?
Lucunya, waktu kecil saya nggak punya mainan yang terkait
robotika. Cuma main yoyo aja.
Cek obrolan selengkapnya dalam Sunday edisi April 2013 :D
Subscribe to:
Posts (Atom)




















