Showing posts with label kuliner. Show all posts
Showing posts with label kuliner. Show all posts

Monday, March 9, 2015

Majalah Sunday Maret 2015: Gadget Issue ^^/

Tuesday, February 10, 2015

Sunday February 2015: Vintage Romance Issue :D

Thursday, January 8, 2015

Sunny Side Up: The New Concept!




Sejumlah perubahan akan terjadi di Sunny Side Up Gading Walk, dan Sunday berkesempatan mengintip duluan berbagai modifikasi menu dan logo dari restoran bernuansa serbatelur ini.


“Berubah menjadi lebih baik!” Kak Debora Louissa dari Sunny Side Up menyambut Sunday dengan semangat 45. Perubahan logo Sunny Side Up juga dibarengi dengan perubahan konsep dan sejumlah modifikasi menu- ada yang ditinggalkan, ada yang ditambahkan.

“Konsep kami yang tadinya Western, sekarang menjadi Japanese Fusion,” sambungnya. Selain buah dari kreativitas tim internal, perubahan ini juga terinspirasi dengan salah satu menu yang selalu menjadi favorit pengunjung selama ini: Omurice. “Namanya orang Indonesia ya, harus ketemu nasi kalau makan.”

Omurice Sensation
Maka, Sunny Side Up akan lebih berfokus pada aneka modifikasi Omurice yang unik-unik untuk memanjakan lidah pengunjung. Bagi kamu yang belum tahu, Omurice alias Omu-raisu dalam bahasa aslinya adalah hidangan Jepang yang terinspirasi sentuhan kuliner Barat. Sebuah omelet menjadi pembungkus nasi dan disajikan hangat-hangat. Di Negeri Sakura, menu ini umum dikenal sebagai hidangan rumahan.

 
Ada beberapa menu nasi-bungkus-telur alias Omurice yang bisa dipilih, salah satu yang paling unik adalah Omurice dengan sentuhan Indonesia dimana omelet membungkus nasi goreng kampung dengan sate. Namun Sunday jatuh hati pada Omurice dengan Katsuboshi, butter rice yang dibungkus omelet plus topping abon ikan cakalang ala Takoyaki. Sedikit pedas, namun saat perut sedang keroncongan, menikmati hidangan nasi hangat seperti ini sangatlah heavenly!

Behind the Scene
Bicara tentang restoran dengan logo telur ceplok ini tentu nggak lengkap kalau nggak ngomongin telur. Sunny Side Up memiliki peternakan ayam petelur sendiri, yang menghasilkan telur ayam kampung Arab merk Golden Q Eggs yang sangat khas dan digunakan pada semua menu. Telur dengan bagian tengah yang sangat merah dan besar ini memiliki kisah unik tersendiri di baliknya.

“Ada dua cerita mengapa telur ini dinamai telur Arab. Ayam yang menghasilkan telur ini memiliki tampilan yang unik, badannya hitam semua dan hanya sedikit putih di sekeliling leher sehingga tampak seakan memakai sorban. Selain itu ada juga yang bilang kalau ayam ini diperkenalkan oleh seorang Pak Haji,” ujar Kak Debora.

Pemrosesan telur di peternakan Sunny Side Up pun nggak main-main; sebuah mural menggambarkan proses panjang tersebut terpajang di Sunny Side Up Summarecon Mall Serpong. “Di peternakan, telur ini benar-benar diteliti satu per satu, dikeker pakai lampu dan dipastikan kebersihannya. Satu per satu disikat dengan Mama Lime dan dilap sebelum bisa mendapat stiker ‘Q’.”

 
Telur yang dinamai Golden Q Eggs ini memiliki omega 3 lebih banyak dari telur lain dan bebas alergi. Jadi jenis telur ini lebih aman untuk kamu yang suka bisulan atau jerawatan kalau habis makan telur. Happy eating! ^.^/

 

*Sunny side Up Gading Walk akan memperkenalkan konsep barunya pada pertengahan Januari 2015 ini. Harga makanan berkisar dari Rp 35-80ribu.

 

 








Sunday, November 9, 2014

Sunday November 2014: HEROES!

Sunday, July 13, 2014

Trend Healthy Lifestyle di Jakarta

Sadarkah kamu? Jakarta merupakan kota yang masyarakatnya sangat mudah dipengaruhi oleh tren. Inilah ulasan tren kesehatan terbaru dari Christine Watson.

Banyak penduduk, terutama para muda-mudi, senang mengikuti perkembangan tren di luar negeri, dan biasanya setelah diterapkan oleh segelintir orang, secara ajaib yang lain pun akan mengikutinya dan kebiasaan tersebut akan booming.

Salah satu aspek yang juga tak luput dari pengaruh tren ikut-ikutan tersebut adalah kesehatan. Hal ini disebabkan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan. Namun sayang, biasanya tren-tren tersebut belum terjamin, bahkan ada yang berbahaya untuk kesehatan. Yuk kita lihat salah satu tren healthy lifestyle yang sempat booming belakangan ini.


Infused Water pada dasarnya adalah air putih yang dimasuki potongan-potongan buah lalu didiamkan beberapa jam hingga sari-sari buahnya keluar dan air memiliki rasa buah yang dimasukkan. Air ini dipercaya dapat membantu menghilangkan racun didalam tubuh/membantu proses detoksifikasi apabila diminum secara teratur. Infused water ini cukup disukai karena selain mudah untuk membuatnya, rasanya juga lebih enak dan lebih harum daripada air putih.

Ada banyak macam buah yang bisa dimasukkan untuk membuat infused water, yang kandungan serta manfaatnya juga berbeda-beda. Buah yang umumnya digunakan antara lain lemon yang segar dan dipercaya dapat melancarkan sistem pencernaan, stroberi yang memberi warna cerah dan kaya vitamin C, atau timun yang banyak mengandung air dan kaya vitamin B. Rempah seperti daun mint juga bisa dimasukkan untuk memberi sensasi harum, segar, dan manis.

Infused water dipercaya sebagai alternatif sehat untuk mendapatkan manfaat dari air dan buah sekaligus, serta dipercaya dapat menurunkan berat badan, meski belum ada riset yang dapat memastikan hal tersebut. “Saya awalnya tahu mengenai infused water melalui Instagram. Setelah melakukan research lebih jauh, saya memutuskan untuk mencobanya. Saya merasa setelah minum infused water, gula darah saya yang sebelumnya cukup tinggi menurun, serta badan terasa lebih ringan. Perut juga menjadi mengecil terutama di pagi hari.” Kata Karina, 19, seorang mahasiswa yang mengikuti tren ini.

Ada juga tren yang masih dipertanyakan manfaatnya untuk kesehatan seperti OCD (Obsessive Corbuzier's Diet). OCD merupakan salah satu teknik diet yang diperkenalkan oleh pesulap mentalist ternama Indonesia, Deddy Corbuzier. Sederhananya, diet ini memakai metode puasa. Pelaku OCD bisa menentukan sendiri lama waktu puasa mereka, dan selama puasa boleh minum air putih, air teh, atau minuman lain yang tidak berkalori.

Tidak sedikit masyarakat yang coba-coba melakukan diet ini. Sebagian ada yang gagal dan sebagian ada yang berhasil. Deddy Corbuzier sendiri mencoba diet ini dan meng-klaim bahwa ia sukses besar. Ia bahkan menerbitkan sebuah buku mengenai OCD, namun teknik ini juga menuai banyak kontroversi di berbagai kalangan. Salah satu penyebabnya adalah diet OCD membuat pelakunya melewatkan sarapan. “Sarapan itu sangat penting karena memberi asupan energi untuk tubuh, terutama bagi orang yang aktifitasnya padat. Meski hanya sarapan segelas susu, hal itu sudah berpengaruh. Jika tidak sarapan, ditakutkan akan kekurangan energi dan bahkan bisa menyebabkan pingsan.” Kata Florence, 23, seorang mahasiswa FKUI. 
Kontroversi lainnya adalah diet ini membolehkan pelakunya untuk memakan apapun di saat mereka berbuka, tanpa memerhatikan kandungan di dalamnya. Meski banyak orang yang mengklaim berhasil melakukan diet ini, dikhawatirkan akan ada efek sampingnya dalam jangka panjang. Pernahkah Anda mencoba salah satu tren di atas? Sebenarnya, kuncinya adalah menyesuaikan healthy lifesyle tersebut dengan diri kita, dan yang tak kalah penting adalah melakukan riset terlebih dahulu. Contohnya jika ingin diet, kita bisa mengatur pola makan dengan memperbanyak asupan protein, mengurangi karbohidrat serta menghilangkan kebiasaan makan gorengan atau ngemil. Begitu pula dengan tren lainnya. So, be smart guys. Mengikuti tren boleh saja, namun kita harus memastikan dulu bahwa itu tidak berbahaya bagi tubuh kita. Jangan hanya karena takut dianggap kurang gaul kita mengorbankan kesehatan kita.


*Christine Watson adalah mahasiswa di STIKOM London School of Public Relations. Temukan resep DIY Infused Water selengkapnya di Majalah Sunday edisi Juli 2014! :)
 

Tuesday, January 7, 2014

DIY: Home-made Strawberry Jam

 
 
 
Hello, there!
 
Banyak yang penasaran dengan resep selai stroberi yang pernah tampil di Majalah Sunday dua bulan lalu ;) Nah, mau tahu lebih detailnya?
 
 
 
Bahan:
1 kilo strawberry
250-300 ml madu (suka manis? tambahin lagi!)
1 butir lemon

Cara Membuat:
Cuci dan cabut daun dari buah straberry, terus potong dadu
Masukkan strawberry ke dalam panci teflon dan masak di kompor api sedang sampai mencair (kurang-lebih 45-55 menit)
Tuangkan madu dan lemon, aduk terus
Matikan kompor dan biarkan mendingin

Masukkan toples


Voila! :) Selamat mencoba selai sehat ini!
 


 

Sunday, February 10, 2013

Lively Lady: An Interview with Vera Christiani Setiadi





Hal terbaik yang bisa dialami oleh seorang jurnalis adalah ketika ia dapet narasumber nggak hanya kooperatif tapi juga sangat friendly and bisa diajak ngobrol dengan sangat asyik.
Hal seperti itu nggak selalu terjadi, tapi di satu malam yang beruntung, Sunday berkesempatan nongkrong dan makan bareng Vera MasterChef 2 and her bestie, Vega Tistiana. Simak obrolan kami di malam yang makin larut tapi makin gak berasa itu! :)

Hi, Vera! Cerita dong kesibukannya lagi apa aja nih?
Aku sekarang freelance designer, sambil tetap masak dan mencari program-program TV yang berhubungan dengan makanan hehehehe. Oiya, sekarang aku lagi bikin buku resep juga sama anak-anak MasterChef 2 yang seangkatan. Masih tahap proses produksi lah.

Aiih seru banget ^^ Yang paling berkesan dari MasterChef 2 itu apa sih?
 Yang paling berkesan itu gemblengannya. MasterChef 2 merubah aku, dari yang dulunya lebih memandang masak ‘ah, cuma gini-gini doang’, sekarang aku tahu memasak tenyata lebih dari itu. Aku belajar berbagai skill, belajar kerasnya dunia, termasuk juga belajar dari gemblengan Chef Juna yang disiplin. 

Sempet bosen masak nggak?
Ketika di karantina, ada titik jenuh lah. Biasa aku masak karena aku senang, atau karena lagi pengen, maka bawaannya hepi. Di sana karena tekanan, takut dihina, jadi banyak beban…satu kali sempet stuck, pengen berhenti. Cuman setelah itu terlewati dan aku tereliminasi…sekarang justru makin suka masak! Pengen menciptakan resep-resep baru!

Okesip, kalo gitu apa ide menu paling edan yang pernah terpikir sama Vera?
Aku sebenernya pengen bikin Western food tapi pake bahan Indonesia. Kentang diganti ubi, saus daging diganti kluwek atau bumbu kuning. Sebenernya di Bali ada, aku pernah nemu chef yang kaya gitu. Aku pengen nyoba aja.

Suka masak dari kecil ya?
Gara-gara nyokap tahu anak-anaknya suka makan, dia jadi suka masak. Mamiku itu jago banget masak! Dari sana aku ngeliatin terus jadi penasaran. Namanya juga anak kecil. Akhirnya suka masak dari SMP. Misalnya kalo ke restoran baru, aku suka ngerasa pengen bikin sendiri masakan serupa di rumah. Yah namanya hobi, mau 5 jam di dapur juga hepi-hepi aja. 

Vera paling suka masak…
Semua aku coba, tapi lebih pilih Chinese food. Mungkin karena background memang Chinese dan dari kecil makan itu. Biar ada Western food tapi yang dicari Medan-Medan juga hahahahaha XD
Tapi aku belajar masak apa aja, dari pastry, Western, sampai Indonesian itu aku pelajari semua karena setiap masakan ada tantangan sendiri. Kadang eksperimen, hari ini pake daun salam, besok nggak. Dari sana aku lebih paham fungsinya, daripada cuma dikasitahu doang. 

Kenapa dulu Vera nggak mengambil sekolah kuliner sih?
Dulu aku berasal dari jurusan IPA di SMA, dan pengennya ke Food Technology. Cuma di Bandung nggak ada jurusan itu dan aku harus ke Jakarta kalau mau. Tapi waktu itu belum boleh sama mami. Kalau pilihan lain aku kurang minat. Akhirnya aku ambil desain karena memang suka menggambar juga. Aku kuliah di Maranatha, Bandung. 

Vera kan sudah setahun tinggal di Kelapa Gading, gimana pendapat kamu tentang daerah ini?
Sekarang banyakan ramen dan café yang rasanya mirip-mirip yah. Tapi menurut aku yang beda itu Bakso Medan 99. Aku belum pernah dapetin yang kaya gini di tempat lain- ada daging merahnya, sengkel, bakso, babat…khas orang Medan banget. Tempatnya memang udah jadul tapi porsinya lumayan banyak. Memang harga agak mahal tapi worth it lah. 

Nggak tahu kenapa, di daerah Jakarta Utara banyak makanan Medan yang enak-enak yah, dari Pluit sampai Muara Karang. Makanan-makanan kaya gini aku nggak pernah dapetin di Bandung. Sedangkan kalo di Jakarta Selatan banyakan Western. Ini jadi variasi yang unik banget. Apalagi aku di sini kan sendiri, jadi kalau makan yang kaya gitu, rasanya jadi kaya di rumah aja. Enak!

Pengalaman paling nggak terlupakan sama makanan?
Aku demen banget sama bakso. Pernah dua minggu full aku makan mie-bakso tiap hari hahaha. Sampai-sampai aku perlu waktu dulu untuk menetralisir lidah dari mie bakso! Karena aku suka banget yang asem, makan bakso tanpa cuka itu pasti aneh. Kalo masakan Eropa, vinaigrette mereka gitu-gitu aja. Mending bumbu yang ‘nendang’ kaya Padang. 

Pesan Vera untuk pembaca yang baru mulai coba-coba masak?
Jangan takut gagal. Buat aku semua masakan itu nggak ada yang salah. Ini gak boleh pake ini, itu gak boleh…bukan itu. Yang penting gimana menyeimbangkan semua rasa biar manis, asam, asinnya sesuai. Coba aja dulu pakai sisa-sisa yang ada di kulkas. Pakai semua barang yang ada, nggak harus sengaja beli di toko. Masak itu nggak harus sengaja beli bahannya, kamu bisa pakai semua yang kamu punya di rumah. Dan jangan ragu-ragu :)

Sunday membongkar isi tas Vera dalam artikel Polaroid Bag! Cekidot di Sunday edisi 2, The Food Issue